GARAM GUNUNG DI KAMPUNG WANDAI INTAN JAYA PAPUA

Artikle di Tulis Oleh Yuli Agaki

Pada umumnya masyarakat mengenal berbagai jenis garam dengan berbagai pilihan merek dagang melalui strategi promosi tertentu yang digunakan sampai mampu menembus  pasar nasional. Yang menjadi pertanyaannya, apakah garam itu adalah hasil produksi dalam negeri atau bukan? Dengan adanya peluang  akses yang sangat mudah untuk masuknya produk-produk luar negeri ke Indonesai, tidak menutup kemungkinan berbagai jenis garam yang beredar di pasar Indonesia adalah garam dari luar negeri. Produksi garam lokal menjadi tersaingi karena adanya klasifikasi khusus untuk masuk dalam pasar nasional. Klasifikasi khusus pastinya mengarah pada kualitas garam namun apakah garam lokal tidak mampu bersaing di pasar nasional dengan kualitas garam yang dimiliki? Kualitas bukan menjadi satu-satunya indikator yang membentuk klasifikasi khusus, ada indikator lain yang menjadi pendukung untuk bisa masuk di pasar nasional. Hal inilah yang kemungkinan belum mampu dipenuhi oleh produksi  garam lokal di seluruh Indonesia.

Produksi garam secara umum di Indonesia lebih dikenal dengan produksi garam laut Sebaliknya, di kampung Wandai Kabupaten Intan Jaya, provinsi Papua masyarakat kampung meproduksi garam gunung. Produksi garam gunung di Kampung Wandai Kabupaten Intan Jaya Provinsi Papua adalah salah satu aktivitas produksi garam yang cukup aktif. Aktivitas yang sudah dilakukan oleh leluhur mereka hingga saat ini masih dilakukan secara turun temurun. Proses produksi yang telah dilakukan cukup lama ini berlangsung secara tradisional dari proses pengambilan bahan mentah hingga pengolahan menjadi produk siap dikonsumsi. Jenis garam yang dihasilkan dari kampung Wandai ini ada 2, yaitu garam putih dan garam hitam. Uniknya, bahan pembuatan garam putih dan garam hitam ini hanya masyarakat yang bisa membedakannya. Proses produksi atau pengelolahnya sendiri dilakukan oleh masyarakat kampung Wandai secara tradisional.

Gambar 1. Hasil pengemasan garam gunung secara tradisonal

Proses produksi secara tradisional inilah yang masih menjadi penghambat untuk pengembagan produksi garam dalam skala yang lebih besar sekaligus untuk menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Produksi garam gunung yang dilakukan oleh masyarakat kampung Wandai menigkat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan garam di seluruh kampung. Produktivitas garam gunung di kampung Wandai akan lebih efektif apabila penghambat dalam produksi dikurangi yang dimaksudkan disini adalah adanya fasilitas pendukung yang lebih berpotensi untuk mengefektifkan produksi garam gunung di kampung Wandai kabupaten Intan Jaya Provinsi Papua.

Fasilitas pendukung yang berpotensi untuk mengembangkan produkstivitas pengelolaan garam gunung di kampung Wandai ini adalah pelatihan. Yayasan Somatua adalah salah satu yayasan yang yang bergerak di bidang pendidikan untuk masyarakt papua pada tahun 2018 turut andil dalam mengfasilitasi masyarakat melalui edukasi pelatihan pengolahan garam gunung ke arah semimoderen jadi ada transisi antara pengolahan garam gunung secara tradisional dan secara moderen dengan tujuan tidak menghilangkan kultur budaya tradisinal yang ada dalam proses pengelolaannya. Adanya fasilitasi pelatihan yang dilakukan akan berpotensi untuk mengembangkan produktifitas pengelolaan garam gunung di kampung Wandai, sehingga untuk pengembangkan produk garam gunung ini akan lebih banyak dan dapat didistribusikan diluar kampung Wandai agar masyarakat kampung juga lebih produktif dalam mengembangkan potensi yang ada di kampung sehingga bisa bernialai ekonomis bagi masyarakat kampung Wandai.

Gambar 1. Aktivitas produksi garam gunung secara tradisional di kampung Wandai

Sarana prasaranan yang mendukung pengelolaan garam gunung akan menunjang produktifitas  ke arah yang lebih baik, jika pengelolaan secara tradisional akan memakan waktu lebih lama atau bahan utama lebih banyak terbuang karena jarak yang jauh dari sumber air garam yang akan dikelolah menjadi garam. Bentuk fasilitas berupa edukasi seperti yang dilakukan oleh yayasan somatua inilah yang lebih mendatangkan inovasi kepada masyarakat tanpa menguranggi kultur asli dari masyarakat itu sendiri. Mengapa fasilitasnya dalam bentuk pendekatan edukasi karena ketika masyarakat mendapatkan ilmu dan praktek yang diberikan dari fasilitator akan berpotensi untuk membuka peluang bagi masyarakat kampung Wandai untuk membuka garapan garam baru yang bersifat pribadi atau produksinya persatu keluarga yang ada di kampung Wandai jadi bukan pengelolaan yang bersifat gotong-royong sehingga mendatangkan pendapatan bagi persatu keluarga yang ada di kampung Wandai, tujuannya adalah agar masyarakat lebih produktif dalam pengelolaan sumber daya alam mereka sendiri tanpa merusak alam dan tidak didayagunakan oleh oknum-oknum pemangku kepentingan. Pemeritah dan pihak suwasta yang berniat meberdayakan masyarakat  seharusnya tidak mengambil keuntungan dari masyarakt yang diberdayakan sehingga mendatangkan masyarakat yang mandiri serta berdaya guna untuk membentuk masyarakat yang siap memproduksi produk yang siap di pasar Indonesia artinya ketika ada produk garam gunung yang dihsilkan dengan kualitas yang tinggi maka secara tidak langsung akan mempromosikan daerah tempat produksi garam tersebut termasuk kampung Wandai, Kabupatennya dan Provinsi sehingga sebagai produk garam yang dihasilkan dapat lebih dikembangkan lagi dengan fasilitas yang lebih mewadahi apabila ada perhatian dari pemerintah provinsi. Beberapa upaya dari pemerintah setempat juga sudah menyentuh masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat di kampung Wandai

Bentuk kegiatan fasilitasi Pemda Kabupaten Intan Jaya

Pemerintah daerah seharusnya menjadi fasilitatur utama dalam pemberdayaan masyarakat dalam mengelolaan potensi alam yang ada di kampung Wandai kabupaten Intan Jaya ini. Melihat dari antusiasme masyarakat yang ada di kampung Wandai yang memiliki keinginan yang cukup tinggi dalam menginovasikan produk garam gunung ke arah pengolahan yang lebih moderen sehingga menghasilkan produk yang bisa di pasarkan diluar kampung bahkan di distribusikan ke barbagai wilayah yang ada di Indonesia. pemerintah menjadi jalur utama dalam mempomosikan produk garam gunung yang ada di kampung Wandai, dari pemerintahlah jika pemerintah konsistan maka tidak menutup kemungkinan pengelolaan garam gunung di kampung Wandai akan di kenal lebih luas bukan hanya di tingkat kampung saja atau kabupaten saja tetapi bisa di tingkat provinsi. Apabila produk garam yang ada di kampung Wandai dapat diolah secara baik maka hal ini akan sangat berpotensi untuk pengembagan masyarakat terlebih khusus masyarakat  Wandai yang memproduksi garam gunung.

Tempat produksi garam gunung di kampung Wandai.

Produksi garam lokal kampung Wandai tidak kalah dalam segi kualitas tetapi proses pengelolaannya saja yang masih mengarah ke semimoderen atas saran dan kepedulian fasilitator-fasilitator yang sudah di sebut sebelumnya, yang menjadi tugas dari fasilitator-fasilitator  ini adalah menindaklanjuti apa yang sudah direalisasikan baik dalam bentuk mempromosikan kembali mengenai produksi garam gunung yang ada di kampung Wandai kabupaten Intan Jaya dan menkemudian dilakukan peninjawan kembali apakah proses produksi yang ada di kampung Wandai menigkat atau menurun dan memastikan bahwa masyarakat kampung Wandai konsisten memberdayakan fasilitas yang ada atau tidak untuk meningkatkan kualitas produksi garam laut yang ada di kampung Wandai kabupaten Intan Jaya.

Polisi Santa Ke Sekolah

Polisi santa ke sekolah

Bulan desember adalah bulan yang berkitan erat degan suasana natal, natal tanpa santa claus seperti ada yang kurang ibarat sayur tanpa garam. Teman-teman saya mau sedikit bercerita tentang kedatangan  santa claus di sekolah, santa claus yang datang kali ini berbeda karena santa claus datang bukan bersama santa pit hitam tapi, santa claus datang bersama bapak- bapak polisi sedikit takut juga karena santa pit hitam dan polisi sama-sama menakutkan, pak guru bilang sebenarnya polisi dan santa pit hitam tidak menakutkan kalau kita jadi anak yang baik. Saya ingat sekali pada hari jumat tanggal 20 desember 2019 bapak-bapak polisi bersama santa claus datang awalnya kami semua terkejut karena kedatangan  santa claus, diantara kami semua tidak ada yang tau kalau santa claus dan bapak-bapak polisi akan  ke sekolah, tetapi mungkin bapak-bapak guru sama ibu guru sisil tau kalau santa claus dan bapak polisi mau datang ke sekolah. Waktu santa claus datang jam 16.30 WIT kami semua focus ke opa santa claus yang terlihat  lucu dengan baju dan badannya yang sangat besar serta  jengot putihnya yang panjang yang menutupi hidungnya itu santa clausnya baik sekali dengan kami semua. Ada satu bapak polisi yang juga buat kita senang sekali bapak itu pake baju polisi yang berwarna coklat dan pake topi santa.  Bapak itu dengan santa claus kasih kita bingkisan natal senang sekali karena saya pikir polisi itu mau tangkap orang jahat ternyata datang dengan santa claus untuk bagi-bagi bingkisan natal. Sukacita natal benar-benar terasa hari itu. Pak guru bilang itu namanya polisi santa, karena saya penasaran saya tanya  lagi ke paguru “kalau yang pake baju polisi itu siapa namanya?”  paguru bilang “ itu namanya bapak Kompol Sannraju, SH”  aduh bapak ini punya nama susah sekali, saya susah untuk menyebutkan bapak polisi itu punya naman  tapi pak guru bilang itu bapak Kapolsek Mimika Baru (MIRU).  Hati senang sekali karena kita semua yang ada di hari itu dapat bingkisan natal  bapak kapolsek bilang kita harus rajin pergi ibadah dan juga pergi ke sekolah biar besar nanti bisa seperti bapak kapolsek jadi polisi untuk menolong orang dan jadi polisi santa di bulan desember bagi-bagi bingkisan natal. Pak guru dan ibu guru juga bilang jangan lupa berterimakasih ke polisi santa, mudah-mudahan tahun depan polisi santa datang lagi ke sekolah. Kalau tahun depan kalian jadi anak yang baik, rajin ke gereja dan kesekolah mungkin polisi santa juga akan datang ke sekolah kalian. Terimakasih inilah cerita singkat  saya tentang poilisi santa yang datang ke sekolah.

PERSIAPAN UNTUK MENYAMBUT RAJA DAMAI

Setiap umat kristiani pasti menantikan bulan Desember. Baik anak-anak hingga orang dewasa sekaliupun, rindu dengan suasana Natal. Menyambut lahirnya Raja Damai. Kami juga demiikian, anak-anak Yayasan Somatua, sudah tidak sabar menantikan bulan Desember. Akan ada perayaan, libur sekolah, banyak hadiah, dan masih banyak lagi.

Kami bahagiasekali, ketika tanggal 1 desember sudah kami masuki, kami terus bertanya-tanya kepada bapak/ibu guru kami, kapan perayaan Natal Taman Baca akan dilaksanakan, kami siap menyambutnya. Namun, Pak Rofin hanya meminta kami fokus ujian dulu. Nanti setelah ujian, akan diberitahu oleh pak guru.

Akhirnya setelah seminggu melaksanakan ujian, kami kembali bertanya kepada Pak Rofin, kapan perayaan Natal Tman Baca akan dilaksanakan. Namun, lagi-lagi Pak Rofin hanya tersenyum sambil mengajak kami membantu beliau seminggu ke depan untuk dekorasi honai dan ruangan Mama Tito dengan pernak-pernik Natal. Tentu saja kami akan senang membantu.

Sebagian ada yang menghias pohon Natal, ada yang membantu Ibu guru menggunting untuk hiasan dinding, da nada juga yang membantu Pak guru Lamhot memasang lampu-lampu Natal. Beberapa hari kami asyik dengan kegiatan tersebut. Dari yang kecil hingga kakak-kakak kelas semua bekerja sama.

Natal kali ini memang akan kami rayakan dengan sangat sederhana, namun semangat kami begitu besar hingga kami saling membantu untuk mendekorasi Taman Baca menjadi lebih bagus. Pohon Natal yang terbuat dari besi kami geser ke depan Aula Mama Tito, kami berikan pernak-pernik Natal, hingga pohon itu menjadi lebih bagus. Semua Indah.

Selamat menyambut Natal…

Masih Bisa Daftar kah, Pak Guru?

Senin pagi, 9 Desember 2019, kami sedang mendekorasi Aula Mama Tito dan sedang menghias honai, pak Guru Rofin memberikan kami selembar kertas berisi puluhan pertanyaan mengenai isi Alkitab. “Besok kitorang moa da lomba, kam semua half, belajar biar nanti pak guru bagi kelompok dan kita lomba besok, okay??” serentak kami semua mengiyakan.

Setelah itu, pak guru masih menjelaskan kalau perlombaan tidak hanya cerdas cermat Alkitab (CCA), Namun ada jug baca indah Alkitab, serta lomba mewarnai bagi yang belum sekolah. Akhirnya, kami berlomba-lomba untuk jadi peserta. Ada sekitar 10 orang yang mendaftar untuk lomba baca Alkitab, dan untuk lomba CCA ada 6 kelompok, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kami sangat bersemangat menyambut Selasa pagi. Bapak dan ibu guru sudah datang sejak pukul 08.00 WIT untuk mempersiapkan lomba tersebut. Lomba pertama adalah CCA dan di Honai Ugimba ada ibu guru Sisil yang mengawasi kelas TK untuk lomba mewarnai, sementara kelas besar dibagi 2 kelompok besar, 3 kelompok bersama pak Rofin untuk lomba CCA dan 3 kelompok bersama pak guru Lamhot untuk lomba CCA juga. Kami semua semangat mengikuti lomba. Lomba CCA yang sangat menarik, dimana kejar-mengejar poin terjadi. Dan akhirnya yang berhasil menuju babak final ada 4 kelompok. Kelompok yang dipimpin oleh Japance, Bule, Elle, dan Abednego.

Babak final pun dimulai, pak Guru Rofin membacakan soal, semntara itu pak guru Lamhot menuliskan perolehan nilai. Setelah berjalan sengit, akhirnya kami menemukan juaranya. Kelompok yang dipimpin oleh Japance meraih juara 1, diikuti oleh kelompok Elle, lalu kelompok Abednego. Sementara itu kelompok Bule tidak merasa kecewa karena tidak mendapat juara. Namun mereka masih semangat untuk lomba berikutnya, Baca Alkitab.

Sebenarnya, Masela sangat tertarik dengan lomba CCA, namun dia memilih untuk tidak mendaftar. Tetapi, setelah di pertengahan lomba, dia merasa tertarik, lalu bertanya kepada bapak guru,”masih bisa daftar kah, pak guru?” tentu saja kami semua tersenyum sambil berkata tidak bisa. Memang, penyesalan selalu datang terlambat.

Lomba baca Alkitab pun dimulai, seluruhnya ada 13 peserta. Mulai dari yang belum sekolah, Marlince dan Suter, hingga yang sudah SMP semangat untuk mendaftar lomba. Akhirnya, pak guru Rofin bertanya, apakah masih ada yang mau mendaftar, namun sudah tidak ada lagi yang berniat. Berarti peserta resminya adalah 13 orang.

Setelah peserta terakhir, yaitu bule mau maju, untuk membacakan Alkitab, lalu Masela kembali bertanya,”masih bisa daftar kah, pak guru?” lagi-lagi kami dibuat tersenyum, sambil berkata tidak. Memang, Masela belum bisa menentukan pilihan.

Akhirnya seluruh lomba pun selesai pada pukul 10.30WIT. Kami berdebar-debar menunggu hasil lombanya. Namun, pak guru berkata,”okay anak-anak, hasil lomba akan diumumkan pada hari Kamis, sekalian dengan Ibadah Natal kita. Jadi, hari Kamis semua datang ibadah dengan pakaian rapid an bersih, dan semua sudah mandi. Okay??” kami serentak menjawab, “Okayyy”

AKHIRNYA, KAMI BELAJAR KOMPUTER

Rindu. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan anak-anak Somatua. Bagaimana merasakan sensasi melihat layar monitor sambil menekan tombol-tombol yang ada di keyboard. Dan tak lupa sesekali menggeser mouse.

Mereka hanya bisa melihat pemandangan itu di televisi, berharap suatu saat mereka benar-benar bisa menggunakannya. Karena, mereka sangat tertarik dengan komputer tersebut. Bule, salah satu murid di kelompok belajar honai Ugimba, selalu bertanya kepada Pak Guru,”Kapan kita belajar kompiter, pak Guru?” dan Pak Guru hanya tersenyum, dan berkata,”Liat nanti ee..”

Beberapa waktu kemudian, akhirnya, Pak Guru menyampaikan keinginan anak-anak untuk belajar komputer kepada Ibu Kapolda Papua. Kunjungan beliau beliau bersama rombongan ke Taman Baca Kemala Somatua pada bulan Juli 2019 tidak disia-siakan. Disaat Ibu Kapolda sedang meninjau aktivitas anak-anak dan menanyakan kebutuhan mereka, Pak Guru menyampaikan bahwa anak-anak memerlukan satu  unit komputer sebagai sarana belajar. Sebaliknya Ibu Kapolda pun tanpa ragu menyetujui untuk menyumbang satu unit komputer untuk anak-anak. Dan tidak menunggu waktu lama, beberapa hari kemudian, komputer tersebut akhirnya tiba di Taman Baca Kemala Somatua.

Tidak hanya itu, masih dalam bulan yang sama, Bapak Brian Esser, seorang petinggi PTFI yang dermawan juga menyumbangkan dana bagi Yayasan Somatua  untu pengadaan komputer tambahan. Satu unit komputer beserta 2 unit laptop ditambahkan sebagai fasilitas belajar dan kerja bagi anak-anak dan pengajar di Taman Baca Kemala Somatua. Memang, anak-anak sangat diberkati. Dan belum hilang rasa takjub kami, bulan Agustus 2019, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memberikan bantuan 4 unit komputer. Sungguh, ajaib cara Tuhan menjawab doa anak-anak Somatua.

Kini, anak-anak secara bergantian sudah belajar mengoperasikan komputer. Mereka sudah mulai memahami bagian-bagian computer beserta fungsinya. Memang, untuk anak-anak kecil yang belum bisa membaca (kelompok belajar honai Mpaigelah), Pak Guru dan Ibu Guru belum memberikan ijin untuk menggunakan komputer. Tetapi aka nada saatnya mereka akan belajar mengiperasikannya.

Kini, kerinduan itu sudah terbayarkan. Anak-anak sudah melihat, memegang bahkan menggunakan komputer tersebut. Dan anak-anak semakin bersemangat untuk datang dan belajar di Taman Baca Kemala Somatua. Terimakasih atas berkat luar biasa dari Tuhan.

AKHIRNYA, MEREKA DATANG…

Bagaimana perasaanmu, jika kamu memliki seorang teman baru? Tentu kamu akan senang. Teman adalah tempat kita bercerita, bermain, bahkan berkelahi. Namun, selayaknya anak-anak, setelah berkelahi, tentu akan berteman kembali. Itulah dinamika yang terjadi dalam dunia anak-anak. Kita tidak bisa mengatakan bahwa selamanya anak-anak akan hidup dengan rukun. Adakalanya perselisihan terjadi, namun berbeda dengan orang dewasa, anak-anak cepat kembali untuk akur.

Namun, cerita kali ini tentunya bukan tentang perkelahian, namun lebih dari itu. Sesuatu yang indah. Seuatu yang anak-anak dambakan. Teman-teman Bermain! Bukan Cuma 1 teman, namun, buanyaakkk teman.

Seminggu sebelumnya, pak guru dan ibu guru sudah memberitahu kami, bahwa aka nada teman-teman kami akan berkuinjung. Teman-teman kelas III dari sekolah Kalam Kudus. Sekolah yang terletak di Nawaripi Timika. Seluruh orang Timika tentu sudah mengenal sekolah itu. Sekolah dengan tingkat kedisiplinan dan etika yang baik. Kami sebenarnya bingung mengapa mereka mau berkunjung.

Menurut penjelasan Ibu dan Bapak guru kami, mereka ingin beribadah dan berinteraksi bersama, serta tidak lupa bermain. Kedatangan yang sudah kami tunggu jauh-jauh hari. Mereka akan belajar Bersyukur dan Hidup Sederhana, demikian pelajaran dari buku Tema mereka. Sehingga mereka memilih untuk berkunjung ke Yayasan Somatua.

Selasa pagi Pukul 8 lewat 15, mereka akhirnya datang. Sebagian kami ada yang malu-malu. Ada juga yang langsung akrab. Mereka ada 4 kelas dengan 4 armada bus sekolah. Jumlah mereka sekitar 96 anak. Mereka langsung menyerbu arena permainan yang dimiliki oleh Taman baca. Ada yang main ayunan, main jungkat-jungkit, main panjat, dll. Mereka senang bermain di taman baca.

Acara pertama adalah Ibadah singkat yang dipimpin oleh Kak Roby. Membawa cerita Alkitab tentang seorang pemuda yang kaya raya yang tidak mau menjual hartanya dan mengikut Yesus. Kami belajar banyak dari cerita Alkitab tersebut. Kemudian acara berlanjut dengan pembagian bingkisan dari teman-teman dari Kalam Kudus.

 Selanjutnya adalah Snack Time, kami makan makanan ringan sambil bercerita bersama. Lalu setelah itu, kami bermain games bersama. Acaranya seru sekali, sehingga kami lupa kalau waktu sudah siang. Kemudian kami makan siang, dan lanjut bermain lagi.

Sebenarnya kami berat untuk mengucapkapkan perpisahan, karena senang bermain bersama mereka. Namun, waktu jualah yang memisahkan. Kami senang mereka datang. Kami berharap, mereka datang kembali….

GEMA YAYASAN SOMATUA DI CANBERRA

Adalah hal yang membahagiakan ketika kerja keras kita di apresiasi oleh orang/pihak lain. Namun, sejujurnya bukanlah itu yang menjadi tujuan utama atau alasan kita melakukan tersebut. Itu bisa menjadi penyemangat, namun bukan menjadi dasar ataupun tujuan utama dari segala usaha yang telah dilakukan.

Yayasan Somatua sudah beberapa tahun berdiri, sudah puluhan event diikuti baik di dalam kota maupun di luar provinsi Papua. Kini, tim Yayasan Somatua mengikuti kegiatan yang merupakan Festival Indonesia, yang diadakan di Canberra, Australia.Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kegiatan dan produk yang merupakan hasil kerja/binaan Yayasan Somatua. Sekaligus, memperkenalkan Papua melalui Festival tersebut.

Namun, Panitia seolah dibuat terpukau oleh kerja keras yang dilakukan oleh Yayasan yang dipimpin oleh Putra suku Moni, Maximus Tipagau. Dan penghargaan pun disematkan pada Yayasan yang berfokus pada pengembangan pertanian, Kesehatan, Pendidikan maupun perekonomian tersebut. Piagam pernghargaan diberikan oleh Duta Besar LBBP (Luar Biasa dan Berkuasa Penuh) RI untuk Australia dan Vanuatu atas partisipasi Yayasan Somatua pada Festival Indonesia ke -12 di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra pada tanggl 16 November 2019.

Harapan Yayasan Somatua adalah kiranya semakin baik dalam memberdayakan masyarakat papua dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua. Kiranya penghargaan ini menjadi penyemangat sekaligus menambahkan kepercayaan pemerintah bahwa kami serius untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat papua, khususnya suku Moni. Amakaniee….

Christian Van Der Merwe Tamu Spesial Di Awal 2020

Last updated: 25 Januari 2021|Posted by Septinus George Saa

Senin 20 januari 2020 kami kedatangan tamu orang asing, Christian Van Der Merwe adalah  tamu pertama  di tahun 2020 yang datang ke sekolah.

Pak Chris begitulah sebutan nama yang mudah diingat oleh teman-teman di sekolah. Pak Chris datang dengan Pak Guru Rofin ke kami dan kami senang sekali melihat pak Chris datang ke sekolah.

Pak Chris berfoto bersama anak-anak di taman Baca Yayasan Somatua

Awalnya kami sama ibu guru Sisil disekolah kami belajar dan bermain juga membersihkan lingkungan sekitar sekolah. Kedatangan Pak Chris membuat kami tidak fokus bermain karena kami penasaran dengan keberadaan pak Chris di sekolah. Pak Chris ini badannya tinggi sekali kami senang  karena Pak Chris ini sangat ramah kepada kami semua.

Sewaktu kami berada di dalam perpustakaan dan sedang membaca buku Pak Chris juga masuk dan  melihat kami membaca  buku. Pak Rofin dan Pak Chris banyak bercerita tapi mengunakan bahasa Inggris. Kami belum terlalu mengerti tapi kami juga akan belajar bahasa Inggris supaya bisa berhasa inggris seperti Pak Guru Rofin. Nantinya, kedepan ada tamu kami bisa langsung berbicara dengan tamunya dengan mengunakan bahasa inggris pastinya,. Waktu Pak Chris masih berada dalam perpustakaan Pak Chris mengambil atlas yang ada di rak buku dan membuka atlas itu lalu menunjukkan kepada kami dari mana asalnya Pak Chris berada.

Pak Chris menunujuk  Benua Afrika Selatan dari sanalah asal Pak Chris. Kalau dilihat di atlas perjalanan pak Chris dari Afrika Selatan sampai ke Timika Papua sangat jauh sekali.

Pak Chris sangat bahagia melihat kami dan senang sekali karena kami mau belajar, terima kasih juga pak Chris karena mengajarkan kami bahwa betapa luasnya bumi ini dengan kehadiran Pak Chris dari Afrika ke sekolah kami.

Translate »
Open chat