Kunjungan Wakil Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Ke Somatua Training Center (STC)

Wakil Menteri PUPR Republik Indonesia John Wempi Wetipo mengunjungi Somatua Training Center (STC) pada hari Selasa, 15 Desember 2020 pukul 17.20 WIB bersama seorang ajudan dan salah satu pimpinan PT. Freeport Indonesia Bapak Hans Kum. Setibanya di STC, ia dan tim disambut oleh seluruh karyawan, mahasiswa dan pengurus STC.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI kemudian diarahkan ke workshop STC dimana para mahasiswa STC berpraktik dan kemudian mendapat penjelasan tentang kondisi tempat pelatihan, luas (gedung / lahan) dan juga pengembangan STC kedepannya. rencana. Tim STC juga menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi saat ini, terutama permintaan pelatihan simulator crane, operator, bahkan simulator mineGems yang digunakan di PTFI.

Wakil PUPR dan tim kemudian diarahkan lagi untuk melihat kelas-kelas dari STC. Pada kesempatan emas ini, tim Yayasan Somatua yang menjalankan program pendidikannya melalui Somatua Training Center memaparkan latar belakang Yayasan Somatua dan kegiatan sosial, ekonomi dan pendidikan apa saja yang telah dilakukan oleh Yayasan Somatua.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI, Bapak John Wempi Wetipo juga berdiskusi langsung dengan para guru, staf pendukung Yayasan dan juga pengurus Yayasan yang diwakili oleh Koordinator Umum, Septinus George Saa.

Langkah dan kunjungan efektif ini diakhiri dengan doa bersama, penyerahan dokumen profil dari Yayasan Somatua dan Somatua Training Center serta silaturahim dan berbagi foto usai doa penutup dari sdra. David yang merupakan salah satu guru di taman baca yang dikelola oleh Yayasan Somatua. Usai bertemu dengan komunitas Somatua Training Center dan pengelola Yayasan Somatua, Wamen PUPR RI dan 2 orang pendamping meninggalkan STC sekitar pukul 18.45 WIB.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia mengapresiasi kerja nyata Yayasan Somatua dan mendorong STC menyampaikan konsep dan gagasan untuk pengembangan STC kedepannya dimana Wakil Menteri PUPR RI sebagai perwakilan negara akan mendorong pemerintah Indonesia untuk mendukung kegiatan pengembangan SDM dan program di Papua, khususnya di wilayah Kabupaten. Mimika yang dimotori oleh Yayasan Somatua yang dipimpin oleh Maximus Tipagau.

Yayasan Somatua Buka Lokasi Wisata di Keakwa, Berdayakan Masyarakat Setempat

Rumah homestay yang dibangun masyarakat untuk pariwisata di Keakwa (foto: istimewa)

Timika, HP

Yayasan Somatua saat ini tengah memiliki misi untuk mengembangkan pariwisata di wilayah pesisir Kabupaten Mimika. Untuk itu, saat ini masyarakat setempat tengah membangun 18 unit rumah di kampung Keakwa Ditstrik Atuka Kabupaten Mimika.

Direktur Yayasan Somatua Maximus Tipagau melalui sambungan telpon mengungkapkan, dalam pembangunan masyarakat mengalami kendala dari sisi bahan bakar, yang mana semua bahan yang dipergunakan untuk pembangunan rumah harus diambil dari alam melewati sungai. Namun, dirinya menargetkan pembangunan rumah akan rampung dalam dua bulan kedepan.

“Kami sudah pergi ke Kawar, Amar, Keakwa, saat ini fokus kami adalah membangun 10 rumah home stay termasuk jualan souvenir tempat makan, dan jadi total 18 rumah yang kami bangun dan semua itu dibangun oleh orang asli Kamoro, dan untuk desain rumahnya itu rumah orang Kamoro,” kata Maximus, Senin (19/10/2020).

Kendati demikian, Maximus merasa terpanggil untuk membantu masyarakat dari sisi peristiwa yang didukung oleh pantai dan keindahan serta peninggalan sejarah perang dunia kedua, dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat dari sektor pariwisata.

“Tujuan wisata di Keakwa karena saya orang pariwisata, dan saya ingin membantu orang Kamoro dari sisi pariwisata, karena selama ini belum ada yang bantu,” jelasnya. (rik)

Sumber: https://harianpapuanews.id/baca/7179-yayasan-somatua-buka-lokasi-wisata-di-keakwa.html

Ribuan Orang Antusias Hadiri Festival Indonesia 2019 di Australia

Duta Besar RI untuk Australia Kristiarto Legowo dan Menteri Multikultur Negara Bagian ACT (Australian Capital Territory) Chris Steel, selama pembukaan Festival Indonesia 2019 di Canberra, Australia, 16 November 2019.[Dok. KBRI Canberra]

TEMPO.CO, Jakarta – Kelezatan dan keunikan budaya nusantara menjadi primadona bagi warga ibu kota Australia ketika acara Festival Indonesia kembali digelar KBRI Canberra tahun ini.

KBRI Canberra kembali menggelar Festival Indonesia 2019 pada Sabtu, 16 November 2019. Acara ini disambut antusiasme yang sangat tinggi, dengan 6.000 pengunjung memadati Festival Indonesia tahun ini, bahkan di antaranya berasal dari Sydney yang berjarak sekitar 300 km dari Canberra.

Menurut rilis KBRI Canberra kepada Tempo, 19 November 2019, acara dibuka dengan pemukulan Gong oleh Kristiarto Legowo, Duta Besar RI untuk Australia, dengan disaksikan oleh Chris Steel, Menteri Multikultur Negara Bagian ACT (Australian Capital Territory) sebagai tamu kehormatan. Pada kesempatan tersebut Putri Sarenande Ari Dono mewakili Pimpinan Bhayangkari mempersembahkan Buku Nusantara sebagai kenang-kenangan karya Bhayangkari kepada Duta Besar RI dan tamu kehormatan Menteri Multikultur ACT.

Selain itu, hadir pula sejumlah dubes negara sahabat antara lain dari Brunei Darussalam, Vietnam, Timor Leste, Filipina, Rusia, Georgia, Jordania, Kuwait, Maroko, Laos, Swiss, Iran, Finlandia, Palestina, Iran, Zimbabwe, Pantai Gading, maupun diplomat asing, serta pejabat Depludag, Dephan, dan perwakilan Pemerintah Australia lainnya.

Pakaian dan kain tradisional nusantara yang ditampilkan selama Festival Indonesia 2019 di Canberra, Australia, 16 November 2019.[Dok. KBRI Canberra]

Para penampil dalam festival ini memang didatangkan khusus dari Indonesia dengan dukungan penuh dari Bhayangkari Pusat (Polda Sumut, Polda Papua, dan Polda Papua Barat), Pemprov Aceh, dan Pemkab Banggai.

“Dengan mendatangi Festival ini, publik di Australia dapat langsung merasakan, melihat dan memperoleh pengalaman langsung tentang kekayaan kuliner, seni-budaya dan pariwisata Indonesia”, ujar Dubes Kristiarto.

Festival Indonesia di Canberra menyuguhkan enam atraksi utama, yakni Panggung Budaya, Lapak Kuliner Indonesia, Kampung Bali, Workshop Gamelan Jawa, Pameran Seni dan berbagai Produk Indonesia, serta Kids Corner dan Photo Booth.

Di Panggung Budaya, beragam tarian, fashion show, dan pertunjukan dari Sabang sampai Merauke ditampilkan. Mulai Tari Saman dan Seudati dari Aceh, Tari Perdamaian serta fashion show batik dan baju adat dari Papua, Tari Sigulempong dan Tari Pulau Samosir dari Sumatera Utara, Tarian dan Lagu Senandung Tanah Babasal dan fashion show tradisional khas Banggai, peragaan silat Perisai Diri, dan lain sebagainya, berhasil memikat perhatian pengunjung yang hadir.

Penampilan grup gamelan Sekar Langit dan Borobudur Dance Group, yang merupakan binaan KBRI Canberra, juga telah berhasil mengundang decak kagum para hadirin di Kampung Bali, mengingat sebagian besar penabuh gamelan adalah warga Australia yang telah mahir bermain gamelan dengan berbagai lagu tradisional Indonesia.

Seniman pahat Papua didatangkan oleh Yayasan Somatua dibawah pimpinan Maximus Tipagau, untuk meriahkan Festival Indonesia di Canberra, Australia, 16 November 2019.[Dok. KBRI Canberra]

Para pengunjung juga dapat menyaksikan secara langsung para seniman Papua yang mengukir dan memahat patung. Seniman Papua ini didatangkan oleh Yayasan Somatua dibawah pimpinan Maximus Tipagau.

Beragam kuliner khas Indonesia yang ditawarkan dalam Festival ini memang telah menjadi daya tarik utama bagi publik Australia selama ini.

Mulai dari aneka jajanan manis seperti martabak dan kue pukis, sampai makanan berat seperti salero Minang rendang, sate padang, sate ayam, gulai kikil dan paru balado, adalah sedikit contoh dari sederet masakan terkenal Indonesia yang banyak diserbu pengunjung Festival Indonesia di Australia.

Sumber: https://dunia.tempo.co/read/1274242/ribuan-orang-antusias-hadiri-festival-indonesia-2019-di-australia/full&view=ok

AKHIRNYA, KAMI BELAJAR KOMPUTER

Rindu. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan anak-anak Somatua. Bagaimana merasakan sensasi melihat layar monitor sambil menekan tombol-tombol yang ada di keyboard. Dan tak lupa sesekali menggeser mouse.

                Mereka hanya bisa melihat pemandangan itu di televisi, berharap suatu saat mereka benar-benar bisa menggunakannya. Karena, mereka sangat tertarik dengan komputer tersebut. Bule, salah satu murid di kelompok belajar honai Ugimba, selalu bertanya kepada Pak Guru,”Kapan kita belajar kompiter, pak Guru?” dan Pak Guru hanya tersenyum, dan berkata,”Liat nanti ee..”

Beberapa waktu kemudian, akhirnya, Pak Guru menyampaikan keinginan anak-anak untuk belajar komputer kepada Ibu Kapolda Papua. Kunjungan beliau bersama rombongan ke Taman Baca Kemala Somatua pada bulan Juli 2019 tidak disia-siakan. Disaat Ibu Kapolda sedang meninjau aktivitas anak-anak dan menanyakan kebutuhan mereka, Pak Guru menyampaikan bahwa anak-anak memerlukan satu  unit komputer sebagai sarana belajar. Sebaliknya Ibu Kapolda pun tanpa ragu menyetujui untuk menyumbang satu unit komputer untuk anak-anak. Dan tidak menunggu waktu lama, beberapa hari kemudian, komputer tersebut akhirnya tiba di Taman Baca Kemala Somatua.

Tidak hanya itu, masih dalam bulan yang sama, Bapak Brian Esser, seorang petinggi PTFI yang dermawan juga menyumbangkan dana bagi Yayasan Somatua  untu pengadaan komputer tambahan. Satu unit komputer beserta 2 unit laptop ditambahkan sebagai fasilitas belajar dan kerja bagi anak-anak dan pengajar di Taman Baca Kemala Somatua. Memang, anak-anak sangat diberkati. Dan belum hilang rasa takjub kami, bulan Agustus 2019, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memberikan bantuan 4 unit komputer. Sungguh, ajaib cara Tuhan menjawab doa anak-anak Somatua.

Kini, anak-anak secara bergantian sudah belajar mengoperasikan komputer. Mereka sudah mulai memahami bagian-bagiankcomputer beserta fungsinya. Memang, untuk anak-anak kecil yang belum bisa membaca (kelompok belajar honai Mpaigelah), Pak Guru dan Ibu Guru belum memberikan ijin untuk menggunakan komputer. Tetapi akan ada saatnya mereka akan belajar mengoperasikannya.

Kini, kerinduan itu sudah terbayarkan. Anak-anak sudah melihat, memegang bahkan menggunakan komputer tersebut. Dan anak-anak semakin bersemangat untuk datang serta belajar di Taman Baca Kemala Somatua. Terimakasih atas berkat luar biasa dari Tuhan.

 

Perayaan HUT RI ke 74 Di Taman Baca Kemala Somatua

Sejarah merupakan kisah masa lalu yang memiliki kesan kuat. Biasanya saat menentukan akan apa yang terjadi pada masa kini jika memiliki sejarah yang baik, tentu hal itu akan mampu kita nikmati pada saat ini. Kita tidak boleh melupakan sejarah, karna itu merupakan cerita yang akan terus kita wariskan kepada anak cucu kita kelak. Indonesia memiliki sejarah yang panjang, dari sejarah itu juga telah membuat kita layak untuk mengenangnya sampai merayakan setiap tahun, jika itu merupakan sejarah yang mengharukan seperti sejarah kemerdekaan.

Kemerdekaan Indonesia yang pada bulan ini dirayakan, memiliki penantian yang mendalam bagi anak-anak Somatua. Mereka sudah tidak sabar menanti momen tersebut. Momen 17-an memang akan selalu dinantikan oleh anak-anak hingga orang dewasa di Taman Baca Kemala Somatua. Ada banyak perlombaan, maupun sukacita yang lain yang akan menghampiri seperti kegiatan-kegiatan yang telah mereka lakukan..

 

Menghias Honai

       

 Senin pagi, 12 Agustus 2019, anak-anak Somatua sudah bersiap di depan perpustakaan. Mereka sudah tidak sabar, menunggu perlombaan apa yang akan dilakukan pada pagi itu. Hingga akhirnya Bu guru Sisil datang dengan membawa pernak-pernik 17-an dan juga bendera. Wanita bersuara merdu itu kemudian menyampaikan pada anak-anak,” Hari ini, kita akan ada lomba menghias kelas, nanti pak guru akan bagi nama-nama kelompoknya, lalu kamorang harus hias kam pung kelas ee?!!”. Lalu, anak anak bersorak sambil melompat.

Mereka akhirnya dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 akan menghias honai Mpaigelah, nantinya kelas ini akan dipandu oleh Ibu guru Sisil dan akan dipimpin oleh Perana. Lalu, kelompok 2 akan menghias honai Carstensz. Kelompok ini akan dipimpin oleh Japance dan dipandu oleh Ibu Ovie. Kelompok terakhir adalah kelompok yang akan menghias honai Ugimba. Yang diawasi oleh Pak guru Lamhot dan dipimpin oleh Deti. Kegiatan menghias honai berlangsung selama 4 hari. Mereka menghias dengan penuh sukacita sambil latihan bernyanyi lagu-lagu Nasional. Sungguh, mereka menghias dengan penuh semangat.

 

Lomba Baca Puisi, Baca Pancasila dan Bernyanyi lagu Nasional

 

            Keseruan tetap berlanjut di hari-hari berikutnya. Tidak hanya lomba menghias honai, lomba membaca puisi juga turut diikuti oleh anak-anak Yayasan Somatua. Tidak hanya kelas besar, kelas kecil juga turut ambil bagian. Bahkan Rani, adik kandung Joshua Ontou, sangat bersemangat dalam melafalkan Pancasila, kendati hanya bisa menghafal sila ke I, namun semangatnya sungguh luar biasa. Demikian juga dengan teman-teman sekelasnya.

Lalu di hari berikutnya dilanjutkan dengan membaca puisi dan bernyanyi lagu nasional, tetap diikuti oleh anak-anak Yayasan Somatua penuh semangat.  Perlombaan-perlombaan ini untuk menyongsong hari kemerdekaan yang jatuh pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019 yang ke 74. Perlombaan yang diikuti memang bertujuan untuk membuat anak-anak semakin cinta akan Indonesia. Dengan harapan tersebut, kiranya anak-anak semakin berpacu untuk belajar giat, dan nantinya mengabdi untuk negara tercinta ini.

 

Perlombaan Balap Karung

            Jum’at pagi, anak-anak sudah berkumpul dengan berpakaian rapi. Mereka mengenakan pakaian kaos Pink bertuliskan,”Anak Papua Cinta Baca”. Mereka sudah tidak sabar menunggu hari ini karna akan banyak perlombaan yang akan dipertandingkan. Perlombaan pada hari ini tidak hanya untuk anak-anak, namun juga untuk Mama-mama dan bapak-bapak.

Diawali dengan perlombaan balap karung, anak-anak sangat antusias untuk mendaftar kepada Pak guru Rofin. Sehingga anak-anak harus dibagi dalam beberapa babak. Di akhir pertandingan, Japance akhirnya keluar sebagai sang Juara. Di pertandingan kelas Mama-mama, tidak kalah seru. Bahkan Ibu Ruth dan Ibu Sisil, turut dalam lomba tersebut. Namun, orang tua (Mama) Esron lah yang berhasil meraih juara 1. Sementara pertandingan kelas bapak-bapak dimenangkan oleh orang tua (Bapak) Abe. Seluruh peserta sangat bergembira. Selanjutnya di akhir kegiatan semua peserta menari Sapusa dan Seka.

Di penghujung acara, pembagian hadiah menjadi hal yang paling dinantikan. Setelah pembagian hadiah oleh Ibu dan Bapak guru, semua anak-anak, mama-mama, dan bapak-bapak, menikmati kue bersama-sama. Momen ulang tahun kemerdekaan kali ini mampu membuat masyarakat di sekitar Kampung Somatua GKII Horeb bersukacita.

 

Momen HUT RI adalah momen yang penting. Itu merupakan sejarah besar yang wajib untuk diketahui oleh anak-anak. Sehingga mereka mengenal bangsa mereka dengan baik. Melalui setiap perlombaan yang sudah dilaksanakan, harapan Bapak dan Ibu guru adalah kiranya anak-anak semakin mencintai bangsanya dan terus bersukacita dan bersyukur untuk kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pejuang sebelumnya. Yayasan Somatua tetap menanamkan cinta tanah air bagi para anak didiknya dan berharap kelak mewariskannya kepada generasi yang akan datang.

Merdeka!!

Sosialisasi pengembangan Budidaya Kopi Di Intan Jaya

Potensi pengembangan kopi Papua pun cukup besar, lahan areal kopi di ujung timur Indonesia ini pada tahun 2015 seluas 10.113 hektare (ha). Lahan tersebut menghasilkan produktivitas rata-rata 438 kilogram (kg) per ha. Sentral kopi Papua adalah di Kabupaten Jayawijaya yang memiliki luas lahan 3.091 ha. Sementara sisanya tersebar di sejumlah kabupaten yakni Kabupaten di pegunungan Bintang, Pegunungan Puncak Jaya, Yahukimo, Puncak, Paniai, Tolikara, Lanny Jaya, Intan Jaya, Dogiyai, Nduga dan Mimika. Sudah banyak produk kopi dari berbagai daerah di Papua yang dikembangkan dan mendapat perhatian baik di Papua maupun Indonesia , misalnya: Kopi Moanemani dari Paniai, Baliem Blue Coffee dari Wamena, Amungme Gold Arabica Coffee dari Kab. Mimika, Pogapa Pone dari Intan Jaya, Kopi Carstenz dari Wamena dan lain-lain. Meski sudah ada pengembangan kopi di kabupaten Intan jaya (Pogapa Pone), mengingat besarnya potensi pengembangan kopi dan luasnya lahan, pengembangan perkebunan kopi di Provinsi Papua secara khusus Kabupaten Intan Jaya perlu melalui kajian yang menyeluruh dan seksama untuk menghasilkan suatu masterplan dan penyusunan business plan untuk pengembangan komoditas kopi.

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa potensi komoditas kopi di Kabupaten Intan Jaya baru dikembangkan sebagian kecil. Tetapi hal ini memperlihatkan bahwa sudah ada pihak yang menunjukkan minat terhadap pengembangan kopi di wilayah ini. Melalui ekowisata berbasis ekonomi kreatif dan kearifan budaya lokal, terjadi transaksi yang bisa membawa manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakan, sekaligus memperkenalkan kehidupan alam dan budaya.

Saat  ini  Yayasan  Somatua  yang didirikan oleh Maximus sedang  berupaya  untuk mengangkat potensi ekonomi lokal masyarakat Kabupaten Intan jaya melalui budidaya “kopi Arabica khas Moni”. Tanaman kopi di kawasan pegunungan tengah Papua sudah dikembangkan oleh Missionaris sejak puluhan tahun lalu, dan saat ini Yayasan Somatua berusaha untuk  meningkatkan jumlah tanaman sekaligus melatih masyarakat untuk budidaya dan pengolahan pasca panen secara benar. Yayasan Somatua sedang mengupayakan spengadaan alat pengolah biji kopi dan pemasaran kopi ke dalam negeri dan mancanegara. Peningkatan ekonomi masyarakat melalui pembentukan koperasi berbasis potensi lokal.

Pada tahun 2018 Maximus dan tim sudah pernah mengunjungi Pogapa yang terletak di Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya yang mana Desa Pogapa ini memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan budidaya kopi dan potensi inilah yang dapat mengangkat ekonomi masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan Maximus dalam program pemberdayaan masyarakat Intan Jaya melalui pengembangan perkebunan kopi. Pembangunan perkebunan kopi rakyat pada tahap melanjutkan program yang telah dibuat pada tahun lalu.

Pada 12 Agustus 2019 di kesempatan kali ini Maximus dan tim dengan beranggotakan enam orang berangkat menuju ke desa Wandai dan Mbunggulo yang terletak di Kabupaten Intan Jaya, masih sama dengan Pogapa tempat ini berlokasi di atas pegunungan yang mana akses perjalanan masih sulit untuk dijangkau dan terbatas tanpa adanya kendaraan transportasi umum.

Adapun tujuan untuk melatih masyarakat dari Gabungan Kelompok Tani Masyarakat Kabupaten Intan Jaya dalam meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan sikap kewirausahaan dalam bidang agribisnis terutama kopi. Selanjutnya menyiapkan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya melalui pemberdayaan petani kopi di kabupaten Intan Jaya. Serta menjadikan produk kopi dan olahannya memiliki daya saing yang kuat, baik di dalam maupun di luar negeri. Keberadaan perkebunan kopi akan membuka lapangan pekerjaan baik di dalam perkebunan maupun di tempat-tempat pengolahan kopi. Mendorong pengembangan komoditas kopi sebagai komoditas penghasil devisa negara. Meningkatkan ketrampilan masyarakat petani melalui pelatihan pengolahan (pengeringan dan penggorengan) biji kopi kering. Kegiatan ini akan berlangsung sampai Dua Minggu ke depan.

Dari kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Somatua dalam program bidang ekonomi. Maximus berharap kepada masyarakat pedalaman khususnya di dataran tinggi Intan Jaya dapat lebih bergerak maju dalam ekonomi kreatif melalui budidaya kopi di tanah mereka sendiri.

Kunjungan Ketua Bhayangkari Papua & Rombongan Di Taman Baca Kemala Somatua

Pada hari Jumat, 26 Juli 2019, Taman Baca Kemala Somatua mendapatkan kunjungan istimewa dari Ketua Bhayangkari Polda Papua, Ny. Drg. Yosefina Purnawirati Rodja. Dari pukul 08.00 WIT anak-anak sudah antusias membersihkan lingkungan sekolah dan merapikan kelas masing-masing untuk menyambut kedatangan rombongan Ibu Kapolda Papua. Sementara itu, 8 orang siswa yang terpilih yakni Jaret, Bule, Deti, Melince, Otina, Dina, Efrata, dan Perana mempersiapkan diri dengan latihan tarian penyambutan yang dibantu oleh Pak Lamhot dan Ibu Sisil. Beberapa kali mereka membuat kesalahan dalam gerakan tangan maupun kaki, namun hal itu tidak meruntuhkan semangat mereka untuk terus berlatih sampai bisa tampil maksimal. Setelah selesai latihan, semua siswapun diarahkan untuk kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri dan berkumpul lagi pukul 12.30 WIT.

 

Pada pukul 13.00 semua siswa dan tim Yayasan Somatua sudah berkumpul di Taman Baca Kemala Somatua untuk melakukan persiapan sebelum kedatangan rombongan Ibu Kapolda Papua yang dijadwalkan tiba pukul 14.00 WIT. Siswa yang bertugas untuk tarian penyambutan, memakai berbagai aksesoris wajah, kepala, tangan dan berlatih beberapa kali untuk lebih memantapkan penampilannya nanti.

Setelah menunggu selama hampir 3 jam, Ibu Kapolda Papua dan rombongan tiba di Taman Baca Kemala Somatua pukul 16.00 WIT. Rombongan disambut dengan tarian “pangkur sagu” yang dibawakan oleh siswa Taman Baca Kemala Somatua. Terlihat rona bahagia terpancar dari wajah Ibu Kapolda Papua, Ny. Drg. Yosefina Purnawirati Rodja, ketika melihat anak-anak menari dengan lincahnya meski di dalam hujan. Tarian berakhir dengan dikalungkannya Noken di leher Ibu Kapolda oleh Deti Kobogau. Anak-anak kembali ke kelas masing-masing dan rombongan Ibu Kapolda mulai meninjau fasilitas yang ada di Taman Baca Kemala Somatua, didampingi oleh Pak Rofin. Ibu Kapolda Papua sangat terkesima dengan fasilitas maupun program belajar yang ada di Taman Baca Kemala Somatua. Kelas pertama yang dikunjungi adalah Honai Mpaigelah yang diperuntukan untuk anak-anak kecil. Didampingi oleh Ibu Sisil, Ibu Kapolda mengajarkan beberapa suku kata kepada anak-anak dan sesekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan ringan. Selanjutnya, rombongan Ibu Kapolda Papua mengunjungi honai Carstensz, dimana sering digunakan untuk tempat belajar mama-mama. Disini Ibu Kapolda bertanya mengenai motivasi mama-mama untuk belajar padahal usia mereka sudah tidak muda lagi. Beliau sangat tersentuh ketika mengetahui alasan mereka untuk semangat belajar agar dapat membaca Alkitab.

Kelas terakhir yang dikunjungi adalah honai Ugimba dimana anak-anak yang sudah mampu calistung biasanya belajar. Ada satu anak yang menarik perhatian Ibu Kapolda Papua karena kepintarannya, yaitu Japance Gayamopa. Japance baru saja kembali dari Jakarta untuk menerima beasiswa dalam acara HUT Telkom. Pada kesempatan itu, Ibu Kapolda Papua meminta Japance untuk menceritakan pengalamannya selama di Jakarta. Awalnya malu-malu, Japancepun akhirnya memberanikan diri dan meceritakan pengalamnnya dengan bahasa sederhananya yang sesekali mengundang tawa. Sebelum meninggalkan kelas, Ibu Kapolda Papua menyempatkan diri untuk menyanyikan lagu “Head Shoulders Knees & Toes” bersama anak-anak di kelas.

Setelah puas berinteraksi bersama anak-anak dan mama-mama, Ibu Kapolda Papua dan rombongan kemudian bergerak menuju GKII Horeb. Disini mereka menyempatkan diri untuk berbagi kasih dengan ibu-ibu PERKAWAN GKII Horeb. Pada pukul 17.30 WIT Ibu Kapolda Papua beserta rombongan pamit, penanda kunjungan telah berakhir. Semua warga Taman Baca Kemala Somatua bahagia dan menantikan kunjungan berikutnya dari Ibu Ketua Bhayangkari Polda Papua.

Amakane!

Japance Punya Cerita

Di antara anak-anak yang belajar di Taman Baca Kemala Somatua, Japance Gayamopa adalah sosok yang menonjol dari sisi kemampuan kognitif. Ia baru saja naik kelas VI (enam) sekolah dasar. Ia memiliki kemampuan yang jauh melebihi anak-anak kelas lima maupun enam yang lain di Taman Baca Kemala Somatua.

Tidak mengherankan ia dipilih untuk mengikuti Lomba Presenter TV Cilik di Diana Shopping Mall Timika dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional pada Februari 2019 lalu. Japance berhasil menyisihkan 50-an peserta lain dan keluar sebagai yang terbaik. Di sekolahnya, Japance selalu masuk 5 Besar peringkat kelas sejak kelas satu sampai sekarang. Nah, di sini sedikit biodata Japance, sang juara itu.

Nama lengkap                 : Japance Gayamopa

Nama Panggilan              : Japance/ Ice

Tempat/ tanggal lahir    : Timika, 6 Maret 2006

Alamat                              : Jl. Anggur, SP II, Jalur III, Timika

Nama orangtua

Bapak                               : Musa Gayamopa (alm.)

Ibu                                    : Robeka Bilambani

Pendidikan                      : Kelas VI Sekolah Dasar Inpres Timika II

Pada 11 Juli 2019, Japance dipilih oleh tim dari Telkom Timika untuk mewakili Papua untuk tampil membacakan puisi di acara HUT Telkom Indonesia di Jakarta. Satu minggu sudah Japance menghabiskan waktu untuk berlatih membacakan puisi hingga akhirnya tanggal 18 Juli 2019 Japance berangkat ke Jakarta ditemani oleh salah satu guru di Taman Baca Kemala Somatua di dampingi oleh tim panitia dari Timika.

 

Pada hari ini Sabtu, 20 Juli 2019 Japance sukses membacakan puisi di depan Menteri BUMN Ibu Rini Soemarno dan para petinggi Telkom di Jakarta. Selamat Japance untuk beasiswa yang didapat dan jangan bosan untuk rajin belajar.

Bu guru Egi, Volunteer kesayangan Emera di Taman Baca Kemala Somatua

Megyanti Matande, yang akrab dipanggil ibu guru Egi, volunteer yang membuat Emera datang pagi-pagi ke kelas di Taman Baca sebelum anak-anak lain datang. Memang, Emera adalah salah satu siswa yg rajin di kelas Mpaigelah. Namun, sejak bu guru Egi memperkenalkan diri pada anak-anak Yayasan Somatua, semangat belajar Emera semakin meningkat. Bu guru Egi memang selalu punya cara untuk menarik perhatian para murid. Namun, Emera lah yang paling tertarik dengan cara mengajar guru muda berdarah Toraja ini.

Wanita yang juga merupakan calon alumni Universitas Brawijaya Malang, telah berkomitmen akan membantu pengajar Yayasan Somatua dari tanggal 13 mei hingga 21 Mei 2019. Tidak hanya mengajar anak-anak Taman Baca Kemala Somatua, wanita yang hobi travelling ini juga mengajar Mama-mama membaca, menulis dan berhitung setiap Senin sore dan Rabu sore.

Pelajaran yang diberikan Ibu guru Egi kepada anak-anak adalah pelajaran membaca, berhitung, menulis, dan mewarnai. Yang membuat anak-anak semakin senang dengan Ibu guru Egi adalah, dia juga menemani anak-anak bermain bola, bermain karet, bermain ayunan, dan lain sebagainya.

Ibu guru Egi kadang mengajar di kelas honai Mpaigelah, lalu terkadang di kelas honai Cartenz, dan juga kelas honai Ugimba. Semua anak pasti mengenalnya, karena Ibu guru mengajar dengan sangat semangat. Terkadang ibu guru memberikan hadiah kepada siswa yang mampu menjawab setiap pertanyaan yang diberikan. Seminggu lebih sudah ibu Guru Egi menemani kami belajar, sungguh waktu yang singkat. Ibu Guru memberikan pakaiannya yang sudah kecil kepada anak-anak perempuan dan bagi siswa laki-laki, ibu guru memberikan bola kaki.

Ibu guru Egi berjanji, jika ada liburan, kelak dia akan menjadi volunteer di Taman Baca Kemala Somatua. Terimakasih Ibu guru, kami akan selalu menunggumu.

Translate »
Open chat